Ibnu Mubarak Allaitsi

Berilmu Shahih Untuk Beramal Shalih

Renungan Pagi Pasca Maulid


      Sungguh miris melihat kejahilan Чαπƍ merajalela δ¡ masyarakat kita, taqlid buta Чαπƍ menjajah jiwa Чαπƍ hampa dari ilmu agama Чαπƍ jelas sumbernya, apa gerangan Чαπƍ menjadi penyebabnya?!

      Ya, jauh dari al-Quran dan hadits Nabi صلى الله عليه و سلم Чαπƍ shahih atau alergi dengan keduanya, atau fanatik dengan kiyai dan guru spiritualnya, serta mengikuti adat dan budaya peninggalan nenek moyangnya sebagai dalil utama.

       Hanya karena ingin mencari berkah Чαπƍ tidak barokah, merayakan maulid Чαπƍ sebetulnya adalah bid’ah, banyak jiwa melayang sia-sia begitu saja, Чαπƍ terlukapun tidak terhitung jumlahnya.

الله المستعان

      Hanya kepada Allah Ta’ala kita mengadukan segalanya…

      Cinta Nabi صلى الله عليه و سلم adalah kewajiban manusia (muslim), tapi bukan dengan mengada-adakan perkara agama, para sahabat mulia juga cinta Nabi صلى الله عليه و سلم mereka, namun mereka tidak mengada-ada dalam ibadah mereka.

       Ketahuilah perayaan maulid Nabi صلى الله عليه و سلم adalah ulah Syia’h durhaka, Чαπƍ belum ada pada masa generasi mulia, namun ada setelah mereka tiada.

     Wahai saudarakau seagama, jauhilah itu semua!!! Agar kita selamat ketika δ¡ dunia, δ¡ akheratpun bisa masuk surga.

آمين  يَا رَبَّ العَـــالَمِيْنَ

Iklan

3 Januari 2015 Posted by | Aqidah, Faedah, Manhaj, Nasehat | Tinggalkan komentar


surga-neraka

🍫Dimana ayah Nabi صلى الله عليه و سلم ?

 

Ikhwan fillah karena banyaknya pertanyaan Чαπƍ menanyakan tentang keberadaan ayah Nabi صلى الله عليه و سلم apakah masuk surga atau neraka?

 

Berikut fatwa syekh utsaimin tentang dimana ayah Nabi صلى الله عليه و سلم :

 

أولاً ليس عليك إثم في هذا السؤال، لكن هذا السؤال ليس من الأسئلة التي يستحسن أن يسأل عنها لأنه لا فائدة منها إطلاقاً

 

Pertama, anda tdk berdosa dg pertanyaan ini, akan tetapi pertanyaan ini bukan termasuk pertanyaan Чαπƍ baik untuk ditanyakan, karena pertanyaan ini tidak ada manfaatnya sedikitpun

 

ولكن بعد السؤال عنها لابد من الجواب

 

Akan tetapi setelah ditanyakan maka harus dijawab

 

فيقال إن أبا النبي صلى الله عليه وسلم مات على الكفر وهو في النار

 

Maka dikatakan bahwasanya ayah Nabi صلى الله عليه و سلم mati dalam keadaan kafir, dan berada ​δ¡ neraka

 

كما ثبت في الصحيح أن رجلاً جاء إلى النبي عليه الصلاة والسلام فقال يا رسول الله أين أبي؟ قال أبوك في النار، فلما انصرف دعاه النبي عليه الصلاة والسلام فقال له فقال له أبي وأبوك في النار

 

Sebagaimana terdapat dalam kitab shahih, bahwasanya seorang laki² datang kepada Nabi صلى الله عليه و سلم kemudian dia bertanya:

Ya Rasulullah ​δ¡ м̤̈αηα ayahku? Nabi menjawab: ayahmu ​δ¡ neraka, tatkala orang itu berpaling Nabi صلى الله عليه و سلم memanggilnya dan berkata padanya: ayahku dan ayahmu ​δ¡ neraka

 

وهذا نص في الحديث عن النبي صلى الله عليه وسلم، وعلى هذا فيكون أبو النبي صلى الله عليه وسلم كغيره من الكفار فيكون في النار.

 

Dan ini merupakan nash dalam hadits dari Nabi صلى الله عليه و سلم. Sehingga ayah Nabi صلى الله عليه و سلم sebagaimana orang² kafir lainya yaitu ​δ¡ neraka.

 

والأخ السائل يقول إن بعض الناس يقولون ليس في النار لأنه أبو نبي، وهذا لا يمنع إذا كان أبا نبي أن يكون في النار فهذا آزر أبو إبراهيم كان كافراً وكان في النار، ولهذا لما قال الله تعالى، لما استغفر إبراهيم لأبيه قال الله تعالى (وما كان استغفار إبراهيم لأبيه إلا عن موعدة وعدها إياه فلما تبين له أنه عدو لله تبرأ منه إن إبراهيم لأواه حليم).

 

Dan saudara penanya mengatakan, sesungguhnya sebagian orang mengatakan, (dia) bukan δi neraka karena dia adalah ayah Nabi, dan hal ini tidak menghalangi apabila ayah Nabi berada δi neraka. Ini (sebagai contoh) Azar ayah Nabi Ibrahim kafir, dan dia berada δi neraka. Oleh karena ini tatkala Allah Ta’ala berfirman ketika Nabi Ibrahim

Memohonkan ampun untuk ayahnya, Allah Ta’ala berfirman:

 

(وما كان استغفار إبراهيم لأبيه إلا عن موعدة وعدها إياه فلما تبين له أنه عدو لله تبرأ منه إن إبراهيم لأواه حليم)

 

“Dan permintaan ampun dari Ibrahim (kepada Allah) untuk bapaknya, tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri daripadanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun”. (QS. At-Taubah:114).

 

Sumber: http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_669.shtml

– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

24 Maret 2014 Posted by | Aqidah, Faedah | Tinggalkan komentar

Pelaku Maksiat Tidak Kekal ‎​δ¡ Neraka


IMG_0048

العاصي لا يخلد في النار

Pelaku Maksiat Tidak Kekal ‎​δ¡ Neraka

Pertanyaan:

يقول تعالى: إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ، ويقول أيضا: وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى هل بين هاتين الآيتين تعارض؟ وما المراد بقوله: مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ؟ ع – أ – ز – جدة

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. al-Maidah:116).

Dan Dia berfirman:

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan sesungguhnya Aku benar-benar Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal shaleh kemudian tetap di jalan yang benar”. (QS. Thaaha:82).

Apakah pada dua ayat tersebut terdapat pertentangan?
Dan apa Чαπƍ dimaksud dengan firman-Nya:

مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. al-Maidah:116).
ع – أ – ز – جدة

Jawaban:

ليس بينهما تعارض، فالآية الأولى في حق من مات على الشرك ولم يتب، فإنه لا يغفر له ومأواه النار، كما قال الله سبحانه: إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ[1]، وقال عز وجل: وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ[2]، والآيات في هذا المعنى كثيرة.

Tidak ada pertentangan pada dua ayat tersebut,

Ayat pertama, berkaiatan dengan orang Чαπƍ mati dalam keadaan berbuat syirik (menyekutukan Allah) dan dia belum sempat bertaubat dari kesyirikannya, maka dia tidak akan diampuni dosanya, dan tempat tinggalnya adalah neraka. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ[1]
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun”. [1]

Dan Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ[2]

“Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan”. [2]

Dan ayat-ayat Чαπƍ semakna dengannya sangatlah banyak.

أما الآية الثانية وهي قوله سبحانه: وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى فهي في حق التائبين، وهكذا قوله سبحانه: قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ[3]

Adapun ayat kedua, yaitu firman Allah Ta’ala:

وَإِنِّي لَغَفَّارٌ لِمَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَى

“Dan sesungguhnya Aku benar-benar Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman, beramal shaleh kemudian tetap di jalan yang benar”.

Yaitu bagi orang-prang Чαπƍ bertaubat kepada Allah

Demikian pula firman Allah Ta’ala:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ[3]

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. [3]

أجمع العلماء على أن هذه الآية في التائبين،

Para ulama sepakat bahwa ayat ini adalah berkaitan dengan orang-orang Чαπƍ bertaubat

وأما قوله سبحانه: وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ[4]

Adapun firman Allah Ta’ala:

وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ

“Dan Dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya”.

فهي في حق من مات على ما دون الشرك من المعاصي غير تائب،

Maka ayat tersebut berkenaan dengan orang Чαπƍ mati ‎​δ¡ atas dosa maksiat selain syirik dan dia belum bartaubat darinya

فإن أمره إلى الله إن شاء غفر له وإن شاء عذبه،

Maka perkaranya dikembalikan kepada Allah Ta’ala, jika Dia berkehendak maka Dia mengampuninya, dan jika Dia berkehendak maka Dia akan mengazabnya

وإن عذبه فإنه لا يخلد في النار خلود الكفار، كما تقول الخوارج والمعتزلة ومن سلك سبيلهما،

Jika diazab, maka tidak akan kekal dinerakan sebagaimana kekalnya orang-orang kafir, sebagaimana Чαπƍ dikatakan oleh khawarij dan mu’tazilah serta orang-orang Чαπƍ sejalan dengannya

بل لا بد أن يخرج من النار بعد التطهير والتمحيص كما دلت على ذلك الأحاديث المتواترة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم وأجمع عليه سلف الأمة. والله ولي التوفيق.

Bahkan dia akan dikeluarkan dari neraka setelah dibersihkan dari dosa-dosanya, sebagaimana ditunjukan oleh hadits-hadits Чαπƍ mutawatir dari Rasulullah صلى الله عليه و سلم dan disepakati oleh generasi salaf ummat ini.

والله ولي التوفيق.
——————————-
[1] سورة المائدة الآية 72.
[2] سورة الأنعام الآية 88.
[3] سورة الزمر الآية 53.
[4] سورة النساء الآية 116.

سماحة الشيخ / عبدالعزيز بن باز -رحمه الله تعالى-

Asy-Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz -rahimahullah Ta’ala-

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/302

Dipublikasikan oleh: http://www.ibnumubarakallaitsi.wordpress.com/2013/04/20/1150/

20 April 2013 Posted by | Aqidah, Faedah | Tinggalkan komentar

Syubhat Talqin Setelah Mengubur Mayit, Dan Bantahannya


شبهة في التلقين بعد الدفن والجواب عليها
Syubhat Talqin Setelah Mengubur Mayit, Dan Bantahannyaما رأيكم فيمن يقول: (إذا كان الميت يسمع قرع النعال فإنه يسمع التلقين)؟

Bagaimana pendapat anda terhadap orang Чαπƍ mengatakan: (Apabila mayit dapat mendengar bunyi langkah sandal-sandal, maka diapun (mayit) dapat mendengar talqin)?

الأمور ليست بالقياس وإنما العبادة توقيفية، وسماع قرع النعال لا ينفعه ولا يضره، والميت إذا مات انتقل من الدنيا دار العمل وختم على عمله وانتقل إلى دار الجزاء.

Perkara ini, bukanlah dengan analogi (qiyas), akan tetapi tauqifiyah (berdasarkan dalil), mendengar bunyi langkah sandal-sandal tidak memberinya manfaat ataupun mudharat, dan mayit apabila mati berpindah dari alam dunia Чαπƍ merupakan tempat beramal, dan ditutup amalannya, serta berpindah ke darul jaza (alam untuk diberi balasan).

-سماحة الشيخ / عبدالعزيز بن باز -رحمه الله تعالى

Asy-syekh ‘Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah Ta’ala-

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/2671

11 Maret 2013 Posted by | Aqidah, Faedah | Tinggalkan komentar

Hujan Adalah Karunia Dan Nikmat Allah Ta’ala


Allah Ta’ala berfirman:

يعرفون نعمت الله ثم ينكرونها وأكثرهم الكافرون

“Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang yang ingkar kepada Allah.” (QS. an-Nahl:83).

Hujan merupakan nikmat Allah Ta’ala. Hanya Allah Ta’ala saja Чαπƍ mampu menurunkan hujan, hujan turun bukan karena musim, atau sudah masuk musim penghujan. Dan hujan turun bukan karena bintang ini dan bintang itu. Orang yang menisbatkan hujan kepada bintang, pelakunya dianggap kafir sebagaimana disabdakan Rasulullah صلى الله عليه و سلم dari Rabb-nya, bahwa Dia berfirman:

أصبح من عبادي مؤمن بي و كافر فأما من قال: مطرنا بفضل الله و رحمته, فذلك مؤمن بي كافر بالكوكب, وأما من قال: مطرنا بنوء كذا و كذا, فذلك كافر بي مؤمن بالكوكب

“Diantara hamba-Ku ada yang menjadi beriman kepada-Ku dan ada pula yang kafir. Adapun orang yang mengatakan: ‘Kami telah diberi hujan karena keutamaan dan rahmat Allah, ’maka itulah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang-bintang. Sedang orang yang mengatakan ‘Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu, ’maka itulah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada bintang-bintang. (HR. al-Bukhari).

Jika seseorang percaya bahwa bintang adalah pelaku atau faktor yang mempengaruhi turunya hujan, maka ia dinyatakan musyrik dengan tingkatan syirik besar. Dan jika ia percaya bahwa bintang menyertai turunya hujan sehingga dapat di jadikan isyarat walaupun dengan menyakini bahwa turunya hujan itu dengan izin Allah Ta’ala maka pebuatan itu tetap haram dan pelakunya dinyatakan musyrik dengan tingkatan syirik kecil yang bertentangan dengan kesempurnaan tauhid.

Karena menisbatkan sesuatu kepada selain Allah Ta’ala sebagai pencipta, baik sebagai pelaku, atau faktor yang mempengaruhi atau faktor penyerta adalah perbuatan syirik yang kini banyak menyebar di masyarakat kaum muslimin. Inilah syirik yang sangat dikhawatirkan oleh Rasulullah صلى الله عليه و سلم dalam sabdanya:

ثلاث أخاف على أمتي: الاستسقاء, وحيف السلطان, وتكذيب باالقدر

“Tiga hal yang sangat aku khawatirkan akan menimpa umatku: menisbatkan hujan kepada bintang-bintang, penguasa yang zhalim, dan pendustaan terhadap taqdir. (HR. Ahmad).

Perbuatan itu merupakan salah satu bentuk dari pengingkaran terhaadap nikmat Allah Ta’ala dan sikap tawakal serta bergantung kepada selain Allah Ta’ala . Selain itu, ia juga membuka peluang bagi munculnya berbagai kepercayaan yang salah dan rusak yang pada giliranya akan menghantarkan kepada kepercayaan penyembahan patung dan bintang. Ini adalah syirik di dalam Rububiyyah, sebab di dalamnya terkandumg penafian (peniadaan) ciptaan dari penciptanya dan sebaliknya serta pemberian hak Rububiyyah kepada selain Allah Ta’ala, Rosulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:

أربع فى أمتى من أمر الجاهلية لايتركونهن: الفخر باﻷحساب, والطعن فى اﻷنساب, والاستسقاء باالنجوم, والنحاية

“Empat hal dari perkara-perkara Jahiliyah yang terdapat pada umatku, dan tidak ditinggalkan oleh mereka: membanggakan nenek moyang, mencela keturunan, menisbatkan turunya hujan kepada bintang-bintang, dan meratapi mayat. (HR. Muslim).

Allah Ta’ala berfirman:

وتجعلون رزقكم أنكم تكذبون

“Dan kalian membalas rezeki (Чαπƍ telah dikaruniakan Allah) kepadamu dengan mengatakan perkataan Чαπƍ tidak benar”. (QS. al-Waqi’ah:82).

12 Oktober 2012 Posted by | Aqidah, Faedah | 2 Komentar

MENGENAL ALLAH TA’ALA


Ikhwatal iman, sebagai seorang muslim dituntut untuk mengenal Allah Ta’ala, bahkan mengenal Allah Ta’ala merupakan salah satu kewajiban bagi kita.

Al-Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahab rahimahullah berkata dalam kitabnya al-Ushul ats-Tsalatsah:

.اعلم رحمك الله، أنه يجب علينا تعلم أربع مسائل؛ الأولى: العلم. وهو: معرفة الله, ومعرفة نبيّه, ومعرفة دين الإسلام بالأدلة

       “Ketahuilah mudah-mudahan Allah merahmatimu, bahwasanya wajib bagi kita untuk mempelajari empat hal; Чαπƍ pertama: Ilmu. Yaitu mengenal Allah, mengenal Nabinya, dan mengenal dinul Islam beserta dalil-dalilnya”.

Ada beberapa sarana agar kita bisa mengenal Allah Ta’ala, diantaranya:

1- Memperhatikan dan mempelajari ayat-ayat syar’iyah Чαπƍ ada dalam al-Quran, dan Sunnah Rasulullah صلى الله عليه و سلم .

2- Memperhatikan ayat-ayat kauniyah, yaitu makhluk-makhluk ciptaan Allah Ta’ala.

Sesungguhnya, manusia setiap kali memperhatikan ayat-ayat (tanda-tanda) tersebut akan bertambah ilmu (semakin mengenal) Allah  Penciptanya. Allah Ta’ala berfirman: Baca lebih lanjut

11 Juli 2012 Posted by | Aqidah, Nasehat | Tinggalkan komentar

Inilah Nasihatku Untuk Orang Syi’ah


Diringkas dari kitab Hadzihi Nashiihati Ilaa Kulli Syi’I, karya Syaikh Abu Bakar al-Jazairi hafidzohulloh Ta’ala oleh Abu Ahmad Fuad Hamzah Baraba’, Lc.

Para pembaca sekalian berikut ini adalah ringkasan nasihat yang disampaikan Syaikh Abu Bakar al-Jazairi hafidzohulloh Ta’ala dalam kitab beliau yang berjudul Hadzihi Nashiihati Ilaa Kulli Syi’i. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

HADIAH

Untuk setiap orang Syi’ah yang hati dan pikirannya merdeka, mencintai kebenaran dan kebaikan, menginginkan ilmu dan pengetahuan. Saya persembahkan kalimat singkat ini, dengan harapan mau membacanya, dengan meyakini bahwa saya sedang menyampaikan sebuah nasihat kepadanya, sebagaimana saya meyakini demikian.

PENDAHULUAN

Dengan menyebut nama Alloh, segala puji hanya bagiNya, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh, Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabat-sahabat beliau.

Wa ba’du; Sebelumnya, terus terang saja, yang saya tahu tentang Syi’ah ahlu bait hanyalah sekelompok umat Islam yang berlebih-lebihan dalam mencintai ahlu bait dan mendukung ahlu bait, menyelisihi Ahlus Sunnah dalam sebagian cabang-cabang syari’ah berdasarkan takwil yang dekat atau jauh. Karena itu saya sangat marah bahkan merasakan sakit hati, ketika ada sebagian saudara menyebut orang-orang Syi’ah sebagai orang fasik, bahkan terkadang menuduh mereka keluar dari Islam. Namun perasaan saya ini tidak bertahan lama setelah seorang saudara menyarankan kepada saya untuk mengkaji buku-buku Syi’ah untuk bisa mendapatkan keterangan yang jelas mengenai mereka. Akhirnya kupilih kitab al-Kafi, pedoman mereka dalam beragama. Dan sayapun menelaahnya, akhirnya saya mendapati kenyataan-kenyataan yang membuat saya harus memaafkan orang yang menyalahkan saya karena sikap santun saya terhadap orang-orang Syi’ah, dan melarang saya untuk berkompromi dengan mereka karena saya berharap akan bisa menghilangkan pertentangan yang memang selama ini ada di antara Ahlus Sunnah dengan kelompok yang mengaku beragama Islam ini.

Di bawah ini saya sebutkan beberapa kenyataan ilmiah yang disarikan dari buku pegangan terpenting orang-orang Syi’ah dalam menetapkan aliran mereka. Saya berharap setiap orang Syi’ah sudi memperhatikan ini dengan penuh keikhlasan dan obyektivitas, baru setelah itu menarik kesimpulan tentang madzhabnya dan keyakinannya terhadap Baca lebih lanjut

13 Juni 2012 Posted by | Aqidah, Manhaj, Nasehat | Tinggalkan komentar

Ringkasan Materi dari Kajian Чαπƍ disampaikan Prof. Dr. Abdurrozzaq Bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr hafizhahumallah ϑί Masjid Darul Hijrah STAI ALI BIN ABI THALIB Surabaya ~Siapakah Wali-wali Allah?~


~Siapakah Wali-wali Allah?~

Sudah sepatutnya seorang muslim mengetahui jawaban dari pertanyaan tersebut.

Jawaban tersebut telah  اللّه عَزَّ وَ جَلَّ jelaskan dalam firmannya surat yunus: 62-63.

ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون. الذين آمنوا وكانوا يتقون.

    “Ingatlah, sesungguhnya wali wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa. (QS. Yunus :62 – 63).

   Beliau -hafidzahullah- menjelaskan makna ayat diatas, bahwasanya ciri-ciri wali Allah adalah:

(الذين آمنوا‪‪(

“Yaitu orang-orang yang beriman,”.
Beriman kepada Allah Ta`ala, beribadah semata-mata karenaNya (ikhlas karena Allah),

وكانوا يتقون

“Dan mereka selalu bertaqwa”

Mereka membuktikan keimanan mereka tadi dengan melakukan ketaqwaan kepada Allah Jalla wa `Alaa dengan cara Baca lebih lanjut

17 Februari 2012 Posted by | Aqidah | Tinggalkan komentar

Bidadari Jelita Tuk Penghuni Surga~


Allah Ta’ala berfirman:

(وفُرشٍ مرفوعةٍ)

 “Dan kasur-kasur Чαπƍ tebal lagi empuk”. Yakni tinggi, lembut dan sangat nyaman.” (QS. al-Waqi’ah:34).

Firman Allah Ta’ala selanjutnya:

(إنا أنشأناهن إنشاءً. فجعلناهن أبكاراً. عرباً أتراباً. لأصحاب اليمين)

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung, dan Kami jadikan mereka gadis-gadis perawan, penuh cinta lagi sebaya umurnya, (Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan.” (QS. al-Waqi’ah:35-38).

(Sekilas) dhamir dalam ayat ini berlaku pada sesuatu Чαπƍ tidak disebutkan, namun ketika redaksi ayat memberikan sebuah indikasi, yaitu menyebutkan tentang kasur-kasur, hal itu menunjukan atas adanya perempuan-perempuan Чαπƍ berbaring diatasnya, maka cukuplah dengan menyebutkan nya untuk mewakili keberadaan mereka, dan dhamir itu kembali kepada mereka. (‘Umdah at-Tafsir 3/436-437).

…سبحان اللـّہ …  سبحان اللـّہ

Begitu indah apa Чαπƍ digambarkan Allah Ta’ala kepada kita, dan itu akan diberikan kepada golongan kanan (ahlul janah).

لأصحاب اليمين

“(Kami ciptakan mereka) untuk golongan kanan.” Maksudnya, mereka itu diciptakan bagi golongan kanan, atau mereka disediakan untuk golongan kanan, atau mereka dinikahkan dengan golongan kanan.

Adakah orang Чαπƍ ingin menjadi golongan kanan? Adakah Чαπƍ ingin mendapatkannya??!

4 Februari 2012 Posted by | Aqidah, Faedah | Tinggalkan komentar

Haruskah Tahun Baru Dirayakan??!


Sejarah Tahun Baru Masehi

 

Beberapa hari lagi kita akan menyaksikan perayaan besar, perayaan yang dilangsungkan secara massif oleh masyarakat di seluruh dunia. Ya, itulah perayaantahun baru yang secara rutin disambut dan dimeriahkan dengan berbagai acara dan kemeriahan.

Perayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang yang banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan mengapa hari itu dirayakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. Hal ini menunjukkan bahwa perayaan tahun baru ini pertama kali dirayakan oleh orang-orang paganis Romawi.

Acara ini terus dirayakan oleh masyarakt modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui Baca lebih lanjut

29 Desember 2011 Posted by | Aqidah, Faedah, Manhaj, Nasehat | 1 Komentar