Ibnu Mubarak Allaitsi

Berilmu Shahih Untuk Beramal Shalih

Renungan Pagi Pasca Maulid


      Sungguh miris melihat kejahilan Чαπƍ merajalela δ¡ masyarakat kita, taqlid buta Чαπƍ menjajah jiwa Чαπƍ hampa dari ilmu agama Чαπƍ jelas sumbernya, apa gerangan Чαπƍ menjadi penyebabnya?!

      Ya, jauh dari al-Quran dan hadits Nabi صلى الله عليه و سلم Чαπƍ shahih atau alergi dengan keduanya, atau fanatik dengan kiyai dan guru spiritualnya, serta mengikuti adat dan budaya peninggalan nenek moyangnya sebagai dalil utama.

       Hanya karena ingin mencari berkah Чαπƍ tidak barokah, merayakan maulid Чαπƍ sebetulnya adalah bid’ah, banyak jiwa melayang sia-sia begitu saja, Чαπƍ terlukapun tidak terhitung jumlahnya.

الله المستعان

      Hanya kepada Allah Ta’ala kita mengadukan segalanya…

      Cinta Nabi صلى الله عليه و سلم adalah kewajiban manusia (muslim), tapi bukan dengan mengada-adakan perkara agama, para sahabat mulia juga cinta Nabi صلى الله عليه و سلم mereka, namun mereka tidak mengada-ada dalam ibadah mereka.

       Ketahuilah perayaan maulid Nabi صلى الله عليه و سلم adalah ulah Syia’h durhaka, Чαπƍ belum ada pada masa generasi mulia, namun ada setelah mereka tiada.

     Wahai saudarakau seagama, jauhilah itu semua!!! Agar kita selamat ketika δ¡ dunia, δ¡ akheratpun bisa masuk surga.

آمين  يَا رَبَّ العَـــالَمِيْنَ

Iklan

3 Januari 2015 Posted by | Aqidah, Faedah, Manhaj, Nasehat | Tinggalkan komentar

No Profile, Siapa Takut?


No Profile, Siapa Takut?

Allah Ta’ala berfirman: 

{ ورسلا لم نقصصهم عليك }

 “Dan Rasul-Rasul Чαπƍ tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu.” (QS. An-Nisa 164) 

Banyak Rasul-Rasul utusan Allah Чαπƍ tidak diketahui oleh manusia, apakah hal itu memudhorotkan mereka δi Hadapan Rabb mereka???

Bukanlah tenar (masyhur)nya seseorang sebagai tolak ukur δihadapan Allah Ta’ala, akan tetapi tolak ukur itu dengan apa Чαπƍ telah dia lakukan untuk agama…  

 Apa Чαπƍ sudah kita perbuat untuk agama kita? 

أفلا يتدبرون

 
Apakah kalian tidak mentadaburi Al-Quran??!

28 Jumadal Ula 1435 / 30 Maret 2014

27 November 2014 Posted by | Manhaj, Tazkiyatun Nufus | Tinggalkan komentar

DAKWAH SALAFIYAH SEBAGAI SOLUSI, JANGAN KAU NODAI !!! (EDISI III) (MELURUSKAN TULISAN USTADZ YUSUF UTSMAN BA’ISA WAFFAQAHULLAHU)


بسم الرحمن الرحيم

      Allah تعالى memiliki hikmah dalam setiap ciptaan dan takdir-Nya yang baik maupun yang buruk. Hal itu karena diantara nama-nama-Nya yang maha indah dan sempurna adalah Al-Hakim. Dan diantara hikmah adanya fitnah di atas muka bumi ini adalah untuk Allah mengetahui siapa yang benar dan siapa yang dusta/salah. Allah berfirman :

الم * أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ * وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ *

Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (QS.Al-Ankabut : 1-3)

Fitnah seperti filter yang membedakan mana yang baik dan mana yang jelek. Fitnah juga bak bara api yang mengeluarkan kotoran-kotoran dari besi. Diantara fitnah tersebut adalah fitnah politik (pilpres 2014) yang telah mengeluarkan pemikiran-pemikiran nyeleneh ke permukaan yang tidak/kurang nampak sebelumnya. Kepada-Nya lah kita mengadu dan mohon ketetapan di atas manhaj yang haq ini.

Telah sampai kepada penulis sebuah makalah yang berjudul “Lazimkah setiap orang memilih presiden berarti dia membenarkan demokrasi ?” yang ditulis oleh Ustadz Yusuf Utsman Ba’isa. Setelah penulis merenungkannya, penulis mendapatkan banyak kejanggalan dan keganjilan di dalamnya. Maka dengan memohon pertolongan dan taufik-Nya, penulis menorehkan goresan tinta ini untuk meluruskan yang memang perlu untuk diluruskan bukan untuk menyudutkan.

1-      Alhamdulillah penulis sejak dulu kala berlepas diri dari takfiriyyin (orang-orang yang hobi mengkafirkan kaum muslimin tanpa haq) dan berlepas diri dari paradigma/pemikiran takfir. Penulis juga telah banyak menorehkan tinta untuk menyingkap syubhat-syubhat mereka, khususnya di dalam majalah Adz-Dzakhirah[1]. Silahkan dilihat jika belum Baca lebih lanjut

20 Juni 2014 Posted by | Manhaj | Tinggalkan komentar

DAKWAH SALAFIYAH SEBAGAI SOLUSI, JANGAN KAU NODAI !!! (EDISI II) (TANGGAPAN ATAS TULISAN SAUDARA ABU AIMAN AL-JAWI)


Diantara misi dan visi Dakwah Salafiyah yang mubarakah adalahtashfiyah dan tarbiyahTashfiyah adalah memurnikan Islam dari kotoran (syirik, bid’ah, khurafat, pemikiran-pemikiran sesat/nyeleneh) yang menempel ke dalamnya. Adapun tarbiyah adalah mendidik kaum muslimin di atas ajaran Islam yang putih bersih malamnya seperti siangnya (Al-Qur’an dan As-Sunnah sesuai pemahaman salafush shaleh)[1]. Dan ini hanyalah meneruskan tongkat estafet dakwah Nabi kita Muhammad صلى الله عليه وسلم. Allah berfirman :

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka kitab dan Hikmah (As Sunnah). dan Sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.(QS.Al-Jumu’ah : 2)

Dan hal ini juga meneruskan jejak para ulama, sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasul صلى الله عليه وسلم :

يَحْمِلُ هَذَا العِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُوْلُهُ يَنْفُوْنَ عَنْهُ تَحْرِيْفَ الغَالِيْنَ وَانْتِحَالَ الُمبْطِلِيْنَ وَتَأْوِيْلَ الجَاهِلِيْنَ

Ilmu agama ini akan senantiasa dibawa oleh para ulama yang adil, (tugas) mereka meniadakan/mengingkari tahrif (penyelewengan) orang yang ekstrim, jalannya orang-orang yang batil (menyimpang) dan takwilnya orang-orang yang jahil. (HR.Baihaqi)[2]

Dan diantara bentuk tashfiyah yang dilakukan oleh Dakwah Salafiyah adalah menjelaskan serta menjauhkan umat dari noda-noda dan kotoran politik yang berseberangan dengan kesucian Islam dan As-Sunnah.

Setelah penulis menerbitkan makalah yang berkaitan dengan nasehat untuk Salafiyyin agar tidak masuk kubangan politik, muncul tanggapan dari salah satu saudara kita yang masih studi di Madinah –jazahullahu khairan-. Kemudian penulis pun memberikan tanggapan atasnya serta meluruskan persepsinya yang salah dan lain-lain. Namun sangat disayangkan beberapa hari setelah makalah kedua itu beredar, muncul tulisan baru yang agak kesiangan yang ditulis oleh saudara kita Abu Aiman Al-Jawi (AAA)[3] di Gema Islamiyang telah dikoreksi oleh Ustadz Yusuf Utsman Baisa, Lc dan Ali Saman Hasan, Lc, MA. Kenapa kita katakan kesiangan, karena banyak Baca lebih lanjut

14 Juni 2014 Posted by | Manhaj | Tinggalkan komentar

Dakwah Salafiyah sebagai Solusi, Jangan Kau Nodai (Tanggapan atas tulisan Saudara Musyaffa Ad-Dariny)


Sebelumnya saya ucapkan juga juzita khairan atas komentar-komentar anda dan “Ahabbakallahu alladzi ahbabtani lahu”. Setelah saya cermati tulisan anda, ada beberapa hal yang perlu diluruskan :

1.       Seandainya anda membaca dan memahami apa yang saya tulis dengan cermat dan teliti, maka anda tidak gegabah dan tidak tergesa-gesa serta tidak banyak berkomentar dan menanggapi sehingga bisa mengkaburkan bahkan melegalkan kebatilan. Semisal, ketika penulis mengatakan : “Berbagai elemen masyarakat banyak disibukkan….”. Kemudian anda mengomentari dan menanggapi dengan nada kurang sedap : “Sudah lumrah….siapa yang ragu dengan pengaruh seorang pemimpin terhadap ekonomi, agama dan sisi kehidupan lainnya”. Apakah disibukkannya masyarakat (yang banyak tidak paham aqidah shahihah) dengan politik seperti sekarang ini suatu yang positif atau negatif, wahai saudaraku ?! Sedangkan engkau sendiri mengatakan ketika mengomentari nasehat Syaikh Ali As-Salafi poin (12) : “Penulis melihat, para dai memang seharusnya tidak menyibukkan diri dengan hal-hal yang menjadikan dia sibuk dengan selain ilmu dan dakwah….”. Bahkan engkau juga setuju dengan ucapan Syaikh Muqbil yang mencela hizbiyah karena disibukkan dengan politik. Namun mengapa ketika penulis mencela orang-orang tersebut yang sibuk dengan politik anda tidak terima dan berkomentar seperti di atas?!

2.       Saudaraku Musyaffa’, jika engkau berpikir secara jernih dan berhati-hati maka engkau tidak akan banyak mengomentari tentang ucapan para ulama yang mencela politik, karena yang mereka maksudkan adalah politik kotor seperti di negeri ini. Ataukah engkau menganggap politik di negeri ini sudah suci dan syar’i?! Jawablah dengan lantang.  Tidak ada Salafi yang menolak politik secara mutlak hingga menolak juga siyasah syar’iyah (politik syar’i). Jangan seperti orang awam atau ahli bid’ah yang mengatakan Wahabi/Salafi tidak mau shalawatan gara-gara kita mengingkari shalawat nariyah. Syaikh Abdul Malik Ramadhani –hafidzahullahu- berkata  : “Aku tidak perlu untuk menjelaskan bahwa politik termasuk bagian dari agama, karena sesungguhnya aku yakin bahwa tidaklah level kalian yang setinggi ini menjadikan kalian menuduh penulis bahwa dia memisahkan antara agama dan negara[1]……..Dan tidaklah menyingkirkan syariat melainkan jahiliyah yang dimurkai (Allah) :

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?(QS.Al-Maidah : 50).

Ketahuilah, bahwa sebab kegagalan kelompok pergerakan Islam pada saat ini dalam memperbaiki kerusakan yang universal adalah kesalahan mereka dalam metode perbaikan. Yaitu ketika mereka masuk dalam kubangan politik dan menjadikannya sebagai pondasi reformasi. Meskipun mereka mengaku di atas manhaj yang benar dan dakwah yang komplit serta manajemen yang profesional……Adapun masuk ke dalam kancah politik pada saat ini maka tidaklah yang melakukannya melainkan orang-orang yang telah terjebak dalam jaring-jaring setan untuk membinasakannya dalam puncak kejelekan. Setan pun membujuknya dengan rayuan bahwa tidak boleh meninggalkan parlemen untuk orang-orang fasik dan sekuler. Dan bahwasanya tidak boleh bagi seorang muslim untuk tidak bersuara….Dan bahwasanya undang-undang Yahudi itu hampir diterapkan di negeri ini dan itu seandainya tidak ada menteri ini dan itu…..dan masih banyak lagi propaganda-propaganda yang tidak dibangun di atas pandangan syar’i, sebagaimana juga tidak dibangun di atas pandangan fakta di lapangan. Orang yang jujur dalam renungan dan penelitiannya di lapangan akan mendapati sekelompok orang yang masuk ke dalam (kubangan politik) dengan tujuan untuk merubah, namun justru mereka yang terubah[2]. Maka sungguh benar sabda Nabi r : “Barangsiapa yang mendatangi pintu pemimpin maka dia akan terfitnah”. (HSR.Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi, Nasa’i dan Baihaqi). Dan dalil tentang larangan duduk bergabung dengan mereka dalam parlemen (kubangan politik) adalah firman Allah :

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آَيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. (QS.An-Nisa : 140).[3]

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman –hafizhahullahu- berkata : “Kami mengingkari kalau politik Baca lebih lanjut

14 Juni 2014 Posted by | Manhaj | Tinggalkan komentar

Wahai Salafi, Inginkah Engkau Masuk Kubangan Politik ???!!!


Gambar

بسم الله الرحمن الرحيم

Pada hari-hari seperti ini kita mendapati pembahasan seputar pemilu 2014 sebagai pembahasan terhangat diberbagai media massa dan media elektronik. Berbagai elemen masyarakat banyak disibukkan dengannya, mulai dari pakar politik hingga orang awam. Pembahasan tersebut seolah menjadi menu dan bahan obrolan yang sangat amat mengasyikkan hingga menyita banyak waktu, tenaga, pikiran bahkan harta mereka. Tapi ini tidak asing bagi mereka dan di dalam dunia mereka.

Namun yang sangat disayangkan, penyakit di atas menular pula ke dalam diri orang-orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai pengikut Dakwah Salafiyah yang murni dari kotoran politik ini atau mungkin ada juga yang sebagai penyusup ke dalamnya tanpa disadari. Kita lihat sebagian mereka berdebat kusir tentangnya di majlis-majlis obrolan, FB,WA dan internet. Sebagian lagi bahkan melakukan apa yang diistilahkan dengan kampanye hitam untuk mendukung salah satu capres dan menjatuhkan yang lainnya[1].  Setiap hari menyeru umat untuk masuk kandang politik. Sebagian lagi bahkan menulis “Mungkinkah seorang salafi masuk dalam parlemen ? Jawabnya mungkin”. Bahkan dia juga mengatakan “Mungkinkah Salafiy membentuk partai?”Jawab saya : “Mungkin”. Na’udzu billahi min dzalik. Sebagian lagi meramal dengan ramalan yang batil yang muncul dari pemikiran yang kerdil dan picik “Jika….jadi presiden bisa jadi salafi akan dilarang sebagaimana Ikhwanul Muslimin[2] dilarang di Mesir”.

Apakah ini yang diinginkan oleh para ulama yang berpendapat bolehnya ikut pemilu karena untuk memilih yang lebih ringan madharatnya???!!! Apakah ini yang juga difatwakan dan dipratekkan oleh para ulama tersebut???!!! Ataukah ini telah keluar batas dari fatwa mereka ???!!! Ataukah mereka sudah menganggap diri sebagai ulama yang siap berijtihad setiap saat???!!![3] Apakah karena gelar atau popularitas yang tinggi hingga mereka lupa diri???!!! Laa haula wa laa quwwata illa billahi.

Inilah fenomena yang amat memprihatinkan sekarang ini dalam Dakwah Salafiyah di negeri ini. Hari-hari yang dulu sejuk dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah serta atsar salafushshaleh berganti dengan isu-isu politik yang panas, kotor dan keji[4]. Pembahasan tauhid Asma’ Wa shifat terkalahkan dengan permainan nama-nama capres.

لِمِثْلِ هَذَا يَذُوْبُ القَلْبُ مِنْ كَمَدٍ         إِنْ كَانَ فِيْ القَلْبِ إِسْلَامٌ وَإِيْمَانُ

Karena inilah hati meleleh dengan kesedihan

Jika dalam hati itu masih ada keislaman dan keimanan Baca lebih lanjut

4 Juni 2014 Posted by | Manhaj | Tinggalkan komentar

Bagaimana Menyikapi Buku-buku Ahlul Bid’ah


Diantara musibah yang menyebar ‎​δ¡ zaman sekarang adalah menyebarnya buku-buku Чαπƍ penuh dengan bid’ah-bid’ah dan khurafat, ataupun seruan kepada manhaj baru Чαπƍ diada-adakan.

Buku-buku yang penuh dengan kebid’ahan merupakan sarana Чαπƍ dapat memperkuat setiap ahli bid’ah untuk menyebarkan bid’ah dan kesesatannya diantara manusia. Bahkan dia berusaha untuk memperindah dengan uslub Чαπƍ menakjubkan agar mudah ditelan mentah-mentah oleh orang-orang awam Чαπƍ jahil.

Pertanyaan Чαπƍ harus direnungkan adalah, bagaimanakah kita bisa selamat dari buku-buku tersebut? Dan bagaimana menyelamatkan ahlus sunnah dari buku-buku itu?

Jalan Чαπƍ dapat menyelamatkan dari hal itu adalah mengikuti metode salafus shaleh dalam menyikapi buku-buku ahlul bid’ah. Yaitu memperingatkan ummat dari bahaya buku-buku tersebut, serta tidak membaca dan menjelaskan kesesatan isinya serta menyingkirkan buku-buku tersebut dan menjauhkannya dari ummat ini.

Hal itu bukanlah kezhaliman, bahkan itulah keadilan. Dimana kezhaliman Чαπƍ nyata adalah membiarkan buku-buku Чαπƍ penuh dengan kebid’ahan dan kesesatan menyebar tanpa mengingatkan ummat akan kesesatannya, dan kebatilan Чαπƍ ada ‎​δ¡ dalamnya. Sehingga dapat menyesatkan banyak orang.

Rasulullah صلى الله عليه و سلم memperingatkan untuk tidak membaca buku-buku ahlul kitab Чαπƍ masih terdapat kebenaran padanya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu hari melihat di tangan Umar bin Khathab رضي الله عنه ada selembar dari Taurat, dan Umar mengagumi isinya,, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam marah dengan kemarahan yang keras. Dalam hadits diriwayatkan:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ أَن عُمَرَ بْنَ الْخَطابِ أَتَى النبِي صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ بِكِتَابٍ أَصَابَهُ مِنْ بَعْضِ أَهْلِ الْكُتُبِ فَقَرَأَهُ النبِي صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ فَغَضِبَ فَقَالَ أَمُتَهَوِّكُونَ فِيهَا يَا ابْنَ الْخَطابِوَالذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ جِئْتُكُمْ بِهَا بَيْضَاءَ نَقِيةً لَا تَسْأَلُوهُمْ عَنْ شَيْءٍ فَيُخْبِرُوكُمْ بِحَقٍّ فَتُكَذِّبُوا بِهِ أَوْ بِبَاطِلٍ فَتُصَدِّقُوا بِهِ وَالذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَن مُوسَى صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلمَ كَانَ حَيا مَا وَسِعَهُ إِلا أَنْ يَتبِعَنِي

“Dari Jabir bin Abdullah bahwa ‘Umar bin khatab menemui Nabi Shallallahu’alaihiwasallam dengan membawa tulisan yang dia dapatkan dari Ahli Kitab. Nabi Shallallahu ’alaihi wasallam terus membacanya dan marah seraya bersabda: “Bukankah isinya hanya orang-orang yang bodoh Wahai Ibnu Khottob? Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, saya datang kepada kalian dengan membawa cahaya yang terang. Janganlah kalian bertanya kepada mereka tentang sesuatu! Bagaimana jika mereka mengabari kalian kebenaran lalu kalian mendustakannya atau mereka (menyampaikan) kebatilan lalu kalian membenarkannya?. Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya Musa ‘alaihissalam hidup maka tidak ada jalan lain selain dia mengikutiku”. (HR. Ahmad dalam Musnadnya 3/387 no:14623, al-Baihaqi dalam Syu’bul Iman, dan ad-Darimi 1/115-116 dengan lebih sempurna).
– – – – – – 〜✽〜- – – – – –

14 November 2012 Posted by | Manhaj | Tinggalkan komentar

Inilah Nasihatku Untuk Orang Syi’ah


Diringkas dari kitab Hadzihi Nashiihati Ilaa Kulli Syi’I, karya Syaikh Abu Bakar al-Jazairi hafidzohulloh Ta’ala oleh Abu Ahmad Fuad Hamzah Baraba’, Lc.

Para pembaca sekalian berikut ini adalah ringkasan nasihat yang disampaikan Syaikh Abu Bakar al-Jazairi hafidzohulloh Ta’ala dalam kitab beliau yang berjudul Hadzihi Nashiihati Ilaa Kulli Syi’i. Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.

HADIAH

Untuk setiap orang Syi’ah yang hati dan pikirannya merdeka, mencintai kebenaran dan kebaikan, menginginkan ilmu dan pengetahuan. Saya persembahkan kalimat singkat ini, dengan harapan mau membacanya, dengan meyakini bahwa saya sedang menyampaikan sebuah nasihat kepadanya, sebagaimana saya meyakini demikian.

PENDAHULUAN

Dengan menyebut nama Alloh, segala puji hanya bagiNya, sholawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Rosululloh, Nabi Muhammad, keluarga, dan sahabat-sahabat beliau.

Wa ba’du; Sebelumnya, terus terang saja, yang saya tahu tentang Syi’ah ahlu bait hanyalah sekelompok umat Islam yang berlebih-lebihan dalam mencintai ahlu bait dan mendukung ahlu bait, menyelisihi Ahlus Sunnah dalam sebagian cabang-cabang syari’ah berdasarkan takwil yang dekat atau jauh. Karena itu saya sangat marah bahkan merasakan sakit hati, ketika ada sebagian saudara menyebut orang-orang Syi’ah sebagai orang fasik, bahkan terkadang menuduh mereka keluar dari Islam. Namun perasaan saya ini tidak bertahan lama setelah seorang saudara menyarankan kepada saya untuk mengkaji buku-buku Syi’ah untuk bisa mendapatkan keterangan yang jelas mengenai mereka. Akhirnya kupilih kitab al-Kafi, pedoman mereka dalam beragama. Dan sayapun menelaahnya, akhirnya saya mendapati kenyataan-kenyataan yang membuat saya harus memaafkan orang yang menyalahkan saya karena sikap santun saya terhadap orang-orang Syi’ah, dan melarang saya untuk berkompromi dengan mereka karena saya berharap akan bisa menghilangkan pertentangan yang memang selama ini ada di antara Ahlus Sunnah dengan kelompok yang mengaku beragama Islam ini.

Di bawah ini saya sebutkan beberapa kenyataan ilmiah yang disarikan dari buku pegangan terpenting orang-orang Syi’ah dalam menetapkan aliran mereka. Saya berharap setiap orang Syi’ah sudi memperhatikan ini dengan penuh keikhlasan dan obyektivitas, baru setelah itu menarik kesimpulan tentang madzhabnya dan keyakinannya terhadap Baca lebih lanjut

13 Juni 2012 Posted by | Aqidah, Manhaj, Nasehat | Tinggalkan komentar

Haruskah Tahun Baru Dirayakan??!


Sejarah Tahun Baru Masehi

 

Beberapa hari lagi kita akan menyaksikan perayaan besar, perayaan yang dilangsungkan secara massif oleh masyarakat di seluruh dunia. Ya, itulah perayaantahun baru yang secara rutin disambut dan dimeriahkan dengan berbagai acara dan kemeriahan.

Perayaan tahun baru masehi memiliki sejarah panjang yang banyak di antara orang-orang yang ikut merayakan hari itu tidak mengetahui kapan pertama kali acara tersebut diadakan dan mengapa hari itu dirayakan. Kegiatan ini merupakan pesta warisan dari masa lalu yang dahulu dirayakan oleh orang-orang Romawi. Mereka (orang-orang Romawi) mendedikasikan hari yang istimewa ini untuk seorang dewa yang bernama Janus, The God of Gates, Doors, and Beeginnings. Janus adalah seorang dewa yang memiliki dua wajah, satu wajah menatap ke depan dan satunya lagi menatap ke belakang sebagai filosofi masa depan dan masa lalu, layaknya momen pergantian tahun. Hal ini menunjukkan bahwa perayaan tahun baru ini pertama kali dirayakan oleh orang-orang paganis Romawi.

Acara ini terus dirayakan oleh masyarakt modern dewasa ini, walaupun mereka tidak mengetahui Baca lebih lanjut

29 Desember 2011 Posted by | Aqidah, Faedah, Manhaj, Nasehat | 1 Komentar

Ittiba’ Kepada Rasûlullâh Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam Sebagai Perwujudan Syahadatain


(Oleh: Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas)

Kita bersyukur kepada Allâh Ta’âla atas segala nikmat yang telah dikaruniakan kepada kita. Nikmat yang Allâh Ta’âla karuniakan kepada kita sangat banyak dan tidak dapat kita hitung.

Allâh Ta’âla berfirman:

(QS Ibrahim/14 : 34)

Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu)
dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya.
Dan jika kamu menghitung nikmat Allâh,
tidaklah dapat kamu menghitungnya.
Sesungguhnya manusia itu,
sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allâh)

(QS Ibrahim/14 : 34)

Menurut Imam Ibnul Qayyim rahimahullâh, nikmat terbagi menjadi dua. Pertama, nikmatmutlaqah (mutlak). Yaitu nikmat Islam, iman, hidup berlandaskan sunnah, terhindar dari marabahaya. Hal ini dilimpahkan oleh Allâh Ta’âla hanya kepada orang-orang mukmin yang mencintaiNya. Kedua, nikmat muqayyadah (terbatas). Yaitu nikmat sehat, rizki, keturunan, makanan, tempat tinggal dan lain sebagainya. Nikmat ini diberikan oleh Allâh, tidak hanya bagi kaum Mukminin, namun juga kepada orang-orang kafir dan munafiqin, sebagai bukti bahwa Allâh adalah Maha Pemurah kepada setiap hambaNya, baik yang taat maupun yang ingkar.

Kita wajib bersyukur kepada Allâh Ta’âla atas nikmat yang telah diberikan kepada kita, berupa nikmat Islam dan nikmat berada di atas Sunnah Nabi shallallâhu ‘alaihi wasallam yang mulia, serta nikmat ‘afiat dan keselamatan.

Setiap orang yang meyakini Islam sebagai agamanya, pada hakikatnya telah menyatakan persaksian dan pengakuannya dengan dua kalimat syahadat: Baca lebih lanjut

12 Mei 2011 Posted by | Manhaj | Tinggalkan komentar