Ibnu Mubarak Allaitsi

Berilmu Shahih Untuk Beramal Shalih

Pelajaran Berharga Untukku Dari Wanita Pembawa Botol Air Minum


Suatu hari ketika duduk di sebuah masjid, melintaslah di hadapanku seorang wanita yang ditangannya penuh dengan beberapa botol air minum.
Sosok wanita itu telah menarik perhatianku, mataku tertuju padanya, kulihat diapun sedang mengambil beberapa botol air minum lagi dari beberapa orang tua yang sedang duduk di masjid.

Dalam hatiku terbesit, yang dia bawa sudah banyak, tapi dia masih mau menerimanya. Selang beberapa lama wanita itu melintas lagi di hadapanku, kali ini aku melihat botol yang dibawanya sudah penuh semua dengan air, kulihat dia membagi-bagikan botol itu, ternyata dibagikan kepada pemiliknya. Botol yang dia bawa bukan hanya miliknya, namun milik sebagian saudarinya sesama muslimah. Lalu aku memperhatikan, ternyata jarak antara tempat duduknya ke tempat air itu lumayan jauh, Entah mengapa mata ini tidak lepas memperhatikan sosok wanita itu.

Setelah wanita itu sampai di tempat duduknya, aku mendapatkan kembali pelajaran berharga darinya, ternyata hanya satu botol miliknya, kemudian sambil mengangkat botol miliknya itu dan membawa beberapa gelas plastik wanita itupun berkata kepada saudari-saudarinya sesama muslimah: “Siapa yang haus? Siapa yang haus?”
Sepintas terlihat olehku bahwa yang dilakukan wanita itu suatu perbuatan yang sepele, tapi sungguh ini merupakan kebaikan yang luar biasa. Karena memberi minum merupakan sedekah yang paling utama.

Terdapat dalam hadits mengenai hal itu

عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ, إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ, أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: الْمَاءُ. فَحَفَرَ بِئْرًا, وَقَالَ: هَذا لِأُمِّ سَعْدٍ

Dari Sa’ad bin Ubadah radhiallahu ‘anhu berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ibuku telah wafat, bolehkah aku bersedekah dengan meniatkan pahala untuknya?” Beliau bersabda: “Ya.” Ia (Sa’ad) bertanya: “Sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Air.” Lalu ia menggali sumur dan mengatakan, “Ini untuk ibunya Sa’ad.” (Hadis hasan dengan beberapa penguatnya, diriwayatkan Abu Daud (1681), Ibnu Majah (3684), Ibnu Hibban (3337), Ibnu Khuzaimah (2497) dan An-Nasai (VI/254).

Ditambah dengan hadits lain, hadis ini tentu tidak asing lagi bagi kita, yaitu tentang kisah seseorang yang memberi minum seekor anjing, yang denganya Allah berterima kasih dan mengampuni dosanya, inipun menunjukkan akan keutamaan orang yang memberi minum.

Dari Abu Hurairah radhiyllahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِى كَانَ بَلَغَ مِنِّى. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِىَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِى هَذِهِ الْبَهَائِمِ لأَجْرًا فَقَالَ «فِى كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ »

“Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Kebaikan yang diberikan kepada tiap makhluk hidup ada pahalanya. (HR. Al-Bukhari (2363) dan Muslim (2244).

Sungguh apa yang dilakukan wanita Pembawa botol minum itu -Barakallah fiiha- menjadi pelajaran berharga bagiku, karena tidak pernah terpikir olehku melakukan hal itu, yang ternyata dapat mendatangkan pahala yang besar di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Sebagai pengingat diri ini: Janganlah kita meremehkan sekecil apapun kebaikan itu. Karena kita tidak tau kebaikan mana dari kita yang Allah terima. Dan semangatlah berbuat kebaikan, di mana kita  berada dan kapan saja.

By: Ari Mardiah Joban
Muroja’ah: Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc

Sumber: http://almardiah.blogspot.com/2015/02/pelajaran-berharga-untukku-dari-wanita.html?m=1

Iklan

3 Februari 2015 Posted by | Faedah, Nasehat, Tazkiyatun Nufus, النساء | Tinggalkan komentar

Renungan Pagi Pasca Maulid


      Sungguh miris melihat kejahilan Чαπƍ merajalela δ¡ masyarakat kita, taqlid buta Чαπƍ menjajah jiwa Чαπƍ hampa dari ilmu agama Чαπƍ jelas sumbernya, apa gerangan Чαπƍ menjadi penyebabnya?!

      Ya, jauh dari al-Quran dan hadits Nabi صلى الله عليه و سلم Чαπƍ shahih atau alergi dengan keduanya, atau fanatik dengan kiyai dan guru spiritualnya, serta mengikuti adat dan budaya peninggalan nenek moyangnya sebagai dalil utama.

       Hanya karena ingin mencari berkah Чαπƍ tidak barokah, merayakan maulid Чαπƍ sebetulnya adalah bid’ah, banyak jiwa melayang sia-sia begitu saja, Чαπƍ terlukapun tidak terhitung jumlahnya.

الله المستعان

      Hanya kepada Allah Ta’ala kita mengadukan segalanya…

      Cinta Nabi صلى الله عليه و سلم adalah kewajiban manusia (muslim), tapi bukan dengan mengada-adakan perkara agama, para sahabat mulia juga cinta Nabi صلى الله عليه و سلم mereka, namun mereka tidak mengada-ada dalam ibadah mereka.

       Ketahuilah perayaan maulid Nabi صلى الله عليه و سلم adalah ulah Syia’h durhaka, Чαπƍ belum ada pada masa generasi mulia, namun ada setelah mereka tiada.

     Wahai saudarakau seagama, jauhilah itu semua!!! Agar kita selamat ketika δ¡ dunia, δ¡ akheratpun bisa masuk surga.

آمين  يَا رَبَّ العَـــالَمِيْنَ

3 Januari 2015 Posted by | Aqidah, Faedah, Manhaj, Nasehat | Tinggalkan komentar

Bercinta Dan Bersaudara Karena Allah


Bercinta Dan Bersaudara Karena Allah

Jalinan ikatan dan hubungan wanita muslimah muslimah Чαπƍ tulus dengan saudara dan saudarinya, serta teman-temannya berbeda hubungan kekluargaan dan ikatan sosial wanita lainnya.

Hal itu karena ikatan dan hubungan Чαπƍ dia bina adalah atas dasar persaudaraan karena Allah Ta’ala. Itulah ikatan Чαπƍ terkuat antara Чαπƍ satu dengan Чαπƍ lainnya, baik laki-laki maupun wanita.

Itulah ikatan iman kepada Allah Ta’ala Чαπƍ disambungkan-Nya kepada kaum musliminseluruhnya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-Hujarat:10).

Persaudaraan iman merupakan ikatan hati Чαπƍ paling kuat, jalinan jiwa Чαπƍ paling kokoh, serta hubungan akal dan rohani Чαπƍ paling tinggi.

Maka tidak heran jika kita saksiakan para wanita muslimah Чαπƍ bersaudara karena Allah Ta’ala memiliki ikatan hati Чαπƍ sangat kuat, abadi selamanya.

Rasa persaudaraan tersebut dibangun atas dasar cinta karena Allah Ta’ala. Itulah cinta Чαπƍ paling tinggi, suci dan bersihdalam kehidupan manusia. Itulah cinta Чαπƍ terlepas dari segala asas manfaat, dan materi. Suci dari segala noda.

Karena ikatan cinta Чαπƍ sucidan jernih itu disinari oleh cahaya wahyu dan petunjuk nabawi.

Itulah cinta Чαπƍ menyebabkan kaum muslimin dan muslimat dapat merasakan manisnya iman.

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:

ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود إلى الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار. (متفق عليه)

“Ada tiga hal yang apabila ada pada seseorang dengannya dia akan merasakan manisnya iman; Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai dari pada yang lainnya, mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dia darinya sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam neraka”. (Muttafaq ‘Alaih).

شخصية المرأة المسلمة

(Kepribadian Wanita Muslimah)

26 November 2014 Posted by | Nasehat, Tazkiyatun Nufus, النساء | Tinggalkan komentar

SADARKAH MANUSIA??! (Muhasabah Atas Berbagai Musibah)


MUSIBAH TAK KUNJUNG USAI…
Salah siapa?
Siapa Чαπƍ disalahkan kawan?!
Tidak ada kecuali diri sendiri, Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan – kesalahanmu).“ (QS. asy-Syuraa:30).
Dan Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَق عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمرْنَاهَا تَدْمِيرًا
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan Baca lebih lanjut

14 Februari 2014 Posted by | Nasehat, Tazkiyatun Nufus | Tinggalkan komentar

JURUS JITU PELEMBUT HATI


   عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَجُلاً شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَسْوَةَ قَلْبِهِ ، فَقَالَ لَهُ : إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ “. (السلسلة الصحيحة) 2/533
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam akan hatinya yang keras. Maka Rasulullah bersabda: Jika engkau ingin lembut hatinya beri makan orang-orang miskin dan usaplah kepala anak yatim (Silsilah ash-Shahihah 2/533)
Faidah hadits:
1.Yatim adalah anak kecil yang ditinggal mati oleh bapaknya sebelum usia baligh, jika sudah baligh bukan disebut yatim.
2. Hadits ini sebagai petunjuk nabi bagi siapa saja yang mendapati hatinya keras agar memberi makan orang miskin dan menyentuh kepala anak yatim agar hatinya menjadi lembut, karena dengan menyentuh kepala anak yatim kita bisa merasakan keterasingan anak kecil ini dan perasaan takut akan kehilangan orang yang mengasuhnya, sehingga kita berusaha membahagaikannya, memelihara dan membantunya. Dengan melihat keadaan anak kecil ini akan membuat hati kita yang keras menjadi lembut.
Demikian pula ketika kita memberi makan orang miskin, kita akan mensyukuri nikmat yang Allah berikan, dengan melihat keadaan orang yang kurang (keadaan ekonominya) daripada kita. Berbeda jika kita melihat orang yang lebih kaya, ini akan membuat kita mengingkari atau menghina nikmat yang telah Allah berikan.

Allah berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal”. (Thaha:20)
Rasulullah bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang kurang daripada kamu dan jangan kamu melihat kepada orang yang di atas kamu! Karena yang demikian adalah lebih layak untuk kamu tidak menghinakan nikmat Allah kepadamu”. (HR. Ahmad)Wallahu Ta’ala A’lam

By: Ari Mardiah Joban
Muroja’ah: Ust.Fuad Hamzah Baraba’, Lc

28 Januari 2014 Posted by | Hadits, Nasehat, Tazkiyatun Nufus | 1 Komentar

Jauhilah zhan (Prasangka)


إضاءة قرآنية

Cahaya al-Quran

قال – تعالى- :

(يا أيها الذين آمنوا اجتنبوا كثيرا من الظن إن بعض الظن إثم، ولا تجسسوا ولا يغتب بعضكم بعضا)

Allah Ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang Чαπƍ beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada diantara kamu Чαπƍ mengunjing sebagian Чαπƍ lain…”. (QS. Al-Hujurat:12)

(اجتنبوا كثيرا من الظن) : فإن الإنسان إذا ظن بأخيه شيئًا = (تجسس عليه)
…!(وإذا تجسس عليه (اغتابه

(Jauhilah banyak dari prasangka) :
Sesungguhnya manusia, apabila berprasangka sesuatu terhadap saudaranya maka dia akan (mencari-cari kesalahannya) dan apabila dia mencari-cari kesalahan (saudaranya) maka dia akan (menggunjingnya)!..

[شرح رياض الصالحين- لابن عثيمين]

(Syarah Riyadhus Shalihin – Ibnu Utsaimin).

copas dari: http://almardiah.blogspot.com/2013/11/jauhilah-zhan-prasangka.html?m=1

29 November 2013 Posted by | Nasehat | Tinggalkan komentar

Nasehat Ummi Tuk Ananda Чαπƍ Dilanda Asmara


Nasehat ummi tuk ananda Чαπƍ dilanda asmara

Anakku…
Ummi tau kamu sedang jatuh cinta perasaan cinta itu pasti dialami setiap manusia
akan tetapi, manusia itu berbeda2 dalam menyikapi
orang yang sedang jatuh cinta pasti akan mengikuti apa saja Чαπƍ diperintahkan orang yang disayangnya.
Kalau orang Чαπƍ sedang dilanda asmara itu disuruh memilih antara kesukaan pujaanya itu dengan kesukaan Allah, pasti ia akan memilih Чαπƍ pertama,
ia pun lebih merindukan perjumpaan dengan kekasihnya itu daripada pertemuan dengan Allah Yang Maha Kuasa,
lebih dari itu,angan-angannya untuk selalu dengan sang kekasih lebih dari keinginannya untuk dekat dengan Allah.

Apakah ananda cinta kepada Allah?
Jika cinta kepada Allah maka jauhilah segala larangannya, karena larangan Чαπƍ Allah perintahkan kita untuk menjauhinya itulah Чαπƍ terbaik untuk diri kita,karena Allah Чαπƍ menciptakan kita, tentu Allah lebih tau мαηα  Чαπƍ terbaik untuk kita

Orang yang mengaku cinta kepada Allah, maka ia akan selalu mengikuti segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.

Orang Чαπƍ beriman semua anggota tubuhnya akan tunduk patuh pada perintah Allah.

Anakku….
Cinta bisa membuat bahagia atau membawa petaka
Janganlah terlena dengan cinta Чαπƍ semu.
Karena cinta Чαπƍ semu hanyalah sesaat.
Raihlah cinta Чαπƍ hakiki karena itulah cinta Чαπƍ abadi.

By: Ummu Ahmad Ari Mardiah Joban

29 November 2013 Posted by | Nasehat | Tinggalkan komentar

Apakah (pasien) Orang Sakit Melaksanakan Fatwa Dokter


IMG_0044

هل يعمل المريض بفتوى الطبيب؟

Apakah (pasien) Orang Sakit Melaksanakan Fatwa Dokter?

هل إذا أفتى الطبيب للمريض بأي فتوى يأخذ بها المريض، أم لا بد من الرجوع إلى عالم في ذلك؟

Apakah jika dokter berfatwa kepada pasien dengan fatwa apa saja, dia mengambil fatwa tersebut, atau dia harus merujuk ulama dalam hal itu?

لا بد أن يراجع المريض العلماء فيما يقوله له الأطباء من الأحكام الشرعية؛ لأن الأطباء لهم شأنهم فيما يتعلق بعلمهم، والعلم الشرعي له أهله،

Orang sakit harus merujuk kepada ulama pada hukum-hukum syari’at Чαπƍ dikatakan dokter kepadanya, karena dokter hanya ahli dalam bidangnya (kedokteran), dan ilmu syar’i ada ahlinya

فلا يعمل المريض بالفتوى إلا بعد مراجعة أهل العلم ولو بالتلفون، أو يرسل أحداً يسأل له، والطبيب وغيره

Orang sakit tidak boleh mengamalkan fatwa dokter kecuali setelah merujuk kepada para ulama, walaupun hanya sekedar via telpon, atau mengutus sesorang untuk bertanya untuknya kepada dokter dan selainnya

لا يجوز له أن يفتي إلا عن علم كأن يقول: سألت العالم الفلاني عن كذا وكذا فأجابني بكذا وكذا،

Dia tidak boleh berfatwa kecuali berdasarkan ilmu, seperti dia mengatakan, “Saya sudah tanya ulama Fulan tentang permasalah ini dan itu, dia menjawab ini dan itu

فالطبيب يسأل العلماء في أي مكان، وفي أي مستشفى، وفي أي بلاد،

Maka dokter harus bertanya kepada para ulama ‎​δ¡ manapun dia berada, baik ‎​δ¡ rumah sakit, dan ‎​δ¡ negri manapun

عليه أن يسأل علماء البلاد وقضاتها عما أشكل عليه حتى يفتي به المرضى،

Dia (dokter) harus bertanya kepada para ulama ‎​δ¡ negrinya atau para hakim terhadap apa Чαπƍ dia anggap sulit sehingga dia bisa memberikan fatwa kepada para pasien

فالطبيب عليه أن يسأل وليس له أن يفتي بغير علم؛ لأنه ليس من أهل العلم الشرعي، وإنما عليه أن يخبر عما يتعلق بالطب ويتحرى في ذلك وينصح.

Maka dokter itu harus bertanya, dia tidak boleh berfatwa tanpa ilmu, karena dia bukan ulama Чαπƍ ahli dalam ilmu syar’i, dia hanya mengabarkan apa-apa Чαπƍ berkaitan dengan ilmu kedokteran dan dia berhati-hati dalam hal itu, dan memeberi nasehat.

سماحة الشيخ / عبدالعزيز بن باز -رحمه الله تعالى-

As-Syekh Abdul Aziz bin Baz -rahimahullah Ta’ala-

Sumber: http://www.binbaz.org.sa/mat/2184

Dipublikasikan oleh: https://ibnumubarakallaitsi.wordpress.com/2013/05/13/

13 Mei 2013 Posted by | Faedah, Nasehat | 2 Komentar

Ustadz Juga Manusia


Terkadang ada Чαπƍ berpandangan bahwa ustadz itu adalah manusia perfect Чαπƍ tidak pernah salah, padahal ustadz juga manusia biasa dan bisa salah juga. Karena Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda:

كل بني آدم خطاء وخير الخطائين االتوابون. (رواه الترمذي وحسنه الألباني)

“Setiap anak Adam pasti berbuat kesalahan, dan sebaik-baik Чαπƍ berbuat salah adalah Чαπƍ selalu bertaubat.” (HR. At-Tirmidzi dan dihasankan Syekh al-Albani).

Sehebat apapun orangnya, sebanyak apapun ilmunya, selama dia masih menjadi manusia, maka tidak akan terlepas dari kesalahan.

Sering kita mendengar ada penyelenggara pengajian untuk ‎​δ¡ masjid, rumah, atau kantor dan tempat lainnya meminta kesediaan waktu dari ustadz Fulan untuk memberikan kajiannya, namun tidak jarang ustadz tersebut tidak bisa memenuhi permintaan mereka. Banyak Чαπƍ kesal, tersinggung, atau berburuk sangka padanya.

Janganlah menyalahkan ustadz karena ketidakmampuan melaksanakan tugas. Sekali lagi Ustadz juga Manusia.

Boleh jadi ustadz Fulan ada pekerjaan Чαπƍ harus diselesaikan, atau waktunya beliau sedang mencari nafkah, baik mengajar ‎​δ¡ sekolah, bekerja ‎​δ¡ ladang, berdagang ‎​δ¡ pasar, atau menulis buku ‎​δ¡ rumah.

Janganlah tuduh ustadz kita dengan tuduhan-tuduhan dan buruk sangka, atau mengotori keikhlasannya. Cobalah kita belajar memahami akan udzur orang lain. Bagaimanakah kalau itu terjadi pada diri kita?!

Dan hendaknya kita selalu memperbaiki hati dan niat kita, dan selalu memohon kepada Allah Ta’ala agar kita selalu diberi keikhlasan dalam setiap amal perbuatan kita.

آمين  يَا رَبَّ العَـــالَمِيْنَ

11 Maret 2013 Posted by | Faedah, Nasehat | Tinggalkan komentar

Ancaman Menyembunyikan Ilmu Syar’i


Allah Ta’ala berfirman:

إن الذِينَ يَكْتُمُونَ مَا أَنْزَلْنَا مِنَ الْبَيِّنَاتِ وَالْهُدَى مِنْ بَعْدِ مَا بَيناهُ لِلناسِ فِي الْكِتَابِ أُولَئِكَ يَلْعَنُهُمُ اللهُ وَيَلْعَنُهُمُ اللاعِنُونَ * إِلا الذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَبَينُوا فَأُولَئِكَ أَتُوبُ عَلَيْهِمْ وَأَنَا التوابُ الرحِيمُ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah taubat dan mengadakan perbaikan dan menerangkan (kebenaran), maka terhadap mereka itu Aku menerima taubatnya dan Akulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” [QS. al-Baqarah: 159-160].

Fawaid Ayat:

1. Menyembunyikan ilmu adalah termasuk bentuk pengkhianatan terhadap amanah Чαπƍ Allah berikan kepada para Penuntut ilmu.

2. Wajibnya menyebarkan dan menyampaikan ilmu kepada manusia agar mereka mendapatkan hidayah.

3. Orang Чαπƍ menyembunyikan ilmu syar’i berhak mendapatkan laknat dari semua makhluk.

4. Tidak cukup hanya bertaubat dari menyembunyikan ilmu, akan tetapi harus diiringi dengan memperbaiki diri dan mengikhlaskan amalnya (dalam menyebarkan ilmu).

5. Menyembunyikan ilmu syar’i termasuk salah satu sifat orang-orang yahudi dan nasrani (ahlul kitab).

6. Allah Ta’ala Mahapengampun dan menerima hamba-hamba-Nya Чαπƍ bertaubat kepada-Nya.

7. Allah Ta’ala Mahapenyayang terhadap hamba-hamba-Nya.

11 Maret 2013 Posted by | Faedah, Nasehat | Tinggalkan komentar