Ibnu Mubarak Allaitsi

Berilmu Shahih Untuk Beramal Shalih

Pelajaran Berharga Untukku Dari Wanita Pembawa Botol Air Minum


Suatu hari ketika duduk di sebuah masjid, melintaslah di hadapanku seorang wanita yang ditangannya penuh dengan beberapa botol air minum.
Sosok wanita itu telah menarik perhatianku, mataku tertuju padanya, kulihat diapun sedang mengambil beberapa botol air minum lagi dari beberapa orang tua yang sedang duduk di masjid.

Dalam hatiku terbesit, yang dia bawa sudah banyak, tapi dia masih mau menerimanya. Selang beberapa lama wanita itu melintas lagi di hadapanku, kali ini aku melihat botol yang dibawanya sudah penuh semua dengan air, kulihat dia membagi-bagikan botol itu, ternyata dibagikan kepada pemiliknya. Botol yang dia bawa bukan hanya miliknya, namun milik sebagian saudarinya sesama muslimah. Lalu aku memperhatikan, ternyata jarak antara tempat duduknya ke tempat air itu lumayan jauh, Entah mengapa mata ini tidak lepas memperhatikan sosok wanita itu.

Setelah wanita itu sampai di tempat duduknya, aku mendapatkan kembali pelajaran berharga darinya, ternyata hanya satu botol miliknya, kemudian sambil mengangkat botol miliknya itu dan membawa beberapa gelas plastik wanita itupun berkata kepada saudari-saudarinya sesama muslimah: “Siapa yang haus? Siapa yang haus?”
Sepintas terlihat olehku bahwa yang dilakukan wanita itu suatu perbuatan yang sepele, tapi sungguh ini merupakan kebaikan yang luar biasa. Karena memberi minum merupakan sedekah yang paling utama.

Terdapat dalam hadits mengenai hal itu

عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ, إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ, أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: الْمَاءُ. فَحَفَرَ بِئْرًا, وَقَالَ: هَذا لِأُمِّ سَعْدٍ

Dari Sa’ad bin Ubadah radhiallahu ‘anhu berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, ibuku telah wafat, bolehkah aku bersedekah dengan meniatkan pahala untuknya?” Beliau bersabda: “Ya.” Ia (Sa’ad) bertanya: “Sedekah apa yang paling utama?” Beliau menjawab, “Air.” Lalu ia menggali sumur dan mengatakan, “Ini untuk ibunya Sa’ad.” (Hadis hasan dengan beberapa penguatnya, diriwayatkan Abu Daud (1681), Ibnu Majah (3684), Ibnu Hibban (3337), Ibnu Khuzaimah (2497) dan An-Nasai (VI/254).

Ditambah dengan hadits lain, hadis ini tentu tidak asing lagi bagi kita, yaitu tentang kisah seseorang yang memberi minum seekor anjing, yang denganya Allah berterima kasih dan mengampuni dosanya, inipun menunjukkan akan keutamaan orang yang memberi minum.

Dari Abu Hurairah radhiyllahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِى بِطَرِيقٍ اشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ فَوَجَدَ بِئْرًا فَنَزَلَ فِيهَا فَشَرِبَ ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا كَلْبٌ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ فَقَالَ الرَّجُلُ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا الْكَلْبَ مِنَ الْعَطَشِ مِثْلُ الَّذِى كَانَ بَلَغَ مِنِّى. فَنَزَلَ الْبِئْرَ فَمَلأَ خُفَّهُ مَاءً ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ حَتَّى رَقِىَ فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَإِنَّ لَنَا فِى هَذِهِ الْبَهَائِمِ لأَجْرًا فَقَالَ «فِى كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ »

“Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, dia merasakan kehausan yang sangat, lalu dia turun ke sumur dan minum. Ketika dia keluar, ternyata ada seekor anjing sedang menjulurkan lidahnya menjilati tanah basah karena kehausan. Dia berkata, ‘Anjing ini kehausan seperti diriku.’ Maka dia mengisi sepatunya dan memegangnya dengan mulutnya, kemudian dia naik dan memberi minum anjing itu. Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuninya.” Para sahabat bertanya, “ Wahai Rasulullah, apakah kita bisa meraih pahala dari binatang?” Beliau menjawab, “Kebaikan yang diberikan kepada tiap makhluk hidup ada pahalanya. (HR. Al-Bukhari (2363) dan Muslim (2244).

Sungguh apa yang dilakukan wanita Pembawa botol minum itu -Barakallah fiiha- menjadi pelajaran berharga bagiku, karena tidak pernah terpikir olehku melakukan hal itu, yang ternyata dapat mendatangkan pahala yang besar di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala.

Sebagai pengingat diri ini: Janganlah kita meremehkan sekecil apapun kebaikan itu. Karena kita tidak tau kebaikan mana dari kita yang Allah terima. Dan semangatlah berbuat kebaikan, di mana kita  berada dan kapan saja.

By: Ari Mardiah Joban
Muroja’ah: Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc

Sumber: http://almardiah.blogspot.com/2015/02/pelajaran-berharga-untukku-dari-wanita.html?m=1

Iklan

3 Februari 2015 Posted by | Faedah, Nasehat, Tazkiyatun Nufus, النساء | Tinggalkan komentar

No Profile, Siapa Takut?


No Profile, Siapa Takut?

Allah Ta’ala berfirman: 

{ ورسلا لم نقصصهم عليك }

 “Dan Rasul-Rasul Чαπƍ tidak Kami kisahkan tentang mereka kepadamu.” (QS. An-Nisa 164) 

Banyak Rasul-Rasul utusan Allah Чαπƍ tidak diketahui oleh manusia, apakah hal itu memudhorotkan mereka δi Hadapan Rabb mereka???

Bukanlah tenar (masyhur)nya seseorang sebagai tolak ukur δihadapan Allah Ta’ala, akan tetapi tolak ukur itu dengan apa Чαπƍ telah dia lakukan untuk agama…  

 Apa Чαπƍ sudah kita perbuat untuk agama kita? 

أفلا يتدبرون

 
Apakah kalian tidak mentadaburi Al-Quran??!

28 Jumadal Ula 1435 / 30 Maret 2014

27 November 2014 Posted by | Manhaj, Tazkiyatun Nufus | Tinggalkan komentar

Bercinta Dan Bersaudara Karena Allah


Bercinta Dan Bersaudara Karena Allah

Jalinan ikatan dan hubungan wanita muslimah muslimah Чαπƍ tulus dengan saudara dan saudarinya, serta teman-temannya berbeda hubungan kekluargaan dan ikatan sosial wanita lainnya.

Hal itu karena ikatan dan hubungan Чαπƍ dia bina adalah atas dasar persaudaraan karena Allah Ta’ala. Itulah ikatan Чαπƍ terkuat antara Чαπƍ satu dengan Чαπƍ lainnya, baik laki-laki maupun wanita.

Itulah ikatan iman kepada Allah Ta’ala Чαπƍ disambungkan-Nya kepada kaum musliminseluruhnya.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-Hujarat:10).

Persaudaraan iman merupakan ikatan hati Чαπƍ paling kuat, jalinan jiwa Чαπƍ paling kokoh, serta hubungan akal dan rohani Чαπƍ paling tinggi.

Maka tidak heran jika kita saksiakan para wanita muslimah Чαπƍ bersaudara karena Allah Ta’ala memiliki ikatan hati Чαπƍ sangat kuat, abadi selamanya.

Rasa persaudaraan tersebut dibangun atas dasar cinta karena Allah Ta’ala. Itulah cinta Чαπƍ paling tinggi, suci dan bersihdalam kehidupan manusia. Itulah cinta Чαπƍ terlepas dari segala asas manfaat, dan materi. Suci dari segala noda.

Karena ikatan cinta Чαπƍ sucidan jernih itu disinari oleh cahaya wahyu dan petunjuk nabawi.

Itulah cinta Чαπƍ menyebabkan kaum muslimin dan muslimat dapat merasakan manisnya iman.

Rasulullah صلى الله عليه و سلم bersabda:

ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان: أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما، وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله، وأن يكره أن يعود إلى الكفر بعد أن أنقذه الله منه كما يكره أن يقذف في النار. (متفق عليه)

“Ada tiga hal yang apabila ada pada seseorang dengannya dia akan merasakan manisnya iman; Allah dan rasul-Nya lebih dia cintai dari pada yang lainnya, mencintai seseorang, dia tidak mencintainya kecuali karena Allah, dan dia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkan dia darinya sebagaimana dia benci dilemparkan ke dalam neraka”. (Muttafaq ‘Alaih).

شخصية المرأة المسلمة

(Kepribadian Wanita Muslimah)

26 November 2014 Posted by | Nasehat, Tazkiyatun Nufus, النساء | Tinggalkan komentar

SADARKAH MANUSIA??! (Muhasabah Atas Berbagai Musibah)


MUSIBAH TAK KUNJUNG USAI…
Salah siapa?
Siapa Чαπƍ disalahkan kawan?!
Tidak ada kecuali diri sendiri, Allah Ta’ala berfirman:
وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ
“Dan apa saja musibah yang menimpa maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, Dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan – kesalahanmu).“ (QS. asy-Syuraa:30).
Dan Allah Ta’ala berfirman:
وَإِذَا أَرَدْنَا أَنْ نُهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا فِيهَا فَحَق عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمرْنَاهَا تَدْمِيرًا
“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Maka Kami perintahkan Baca lebih lanjut

14 Februari 2014 Posted by | Nasehat, Tazkiyatun Nufus | Tinggalkan komentar

JURUS JITU PELEMBUT HATI


   عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّ رَجُلاً شَكَا إِلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَسْوَةَ قَلْبِهِ ، فَقَالَ لَهُ : إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ “. (السلسلة الصحيحة) 2/533
Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Seorang laki-laki mengadu kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam akan hatinya yang keras. Maka Rasulullah bersabda: Jika engkau ingin lembut hatinya beri makan orang-orang miskin dan usaplah kepala anak yatim (Silsilah ash-Shahihah 2/533)
Faidah hadits:
1.Yatim adalah anak kecil yang ditinggal mati oleh bapaknya sebelum usia baligh, jika sudah baligh bukan disebut yatim.
2. Hadits ini sebagai petunjuk nabi bagi siapa saja yang mendapati hatinya keras agar memberi makan orang miskin dan menyentuh kepala anak yatim agar hatinya menjadi lembut, karena dengan menyentuh kepala anak yatim kita bisa merasakan keterasingan anak kecil ini dan perasaan takut akan kehilangan orang yang mengasuhnya, sehingga kita berusaha membahagaikannya, memelihara dan membantunya. Dengan melihat keadaan anak kecil ini akan membuat hati kita yang keras menjadi lembut.
Demikian pula ketika kita memberi makan orang miskin, kita akan mensyukuri nikmat yang Allah berikan, dengan melihat keadaan orang yang kurang (keadaan ekonominya) daripada kita. Berbeda jika kita melihat orang yang lebih kaya, ini akan membuat kita mengingkari atau menghina nikmat yang telah Allah berikan.

Allah berfirman:
وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ زَهْرَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَرِزْقُ رَبِّكَ خَيْرٌ وَأَبْقَى
“Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka, sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. dan karunia Tuhan kamu adalah lebih baik dan lebih kekal”. (Thaha:20)
Rasulullah bersabda:
انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ
“Lihatlah kepada orang yang kurang daripada kamu dan jangan kamu melihat kepada orang yang di atas kamu! Karena yang demikian adalah lebih layak untuk kamu tidak menghinakan nikmat Allah kepadamu”. (HR. Ahmad)Wallahu Ta’ala A’lam

By: Ari Mardiah Joban
Muroja’ah: Ust.Fuad Hamzah Baraba’, Lc

28 Januari 2014 Posted by | Hadits, Nasehat, Tazkiyatun Nufus | 1 Komentar

Keutamaan Hari Arofah


Mungkin sebagian kita sudah tau akan keutamaan hari Arofah, hari Чαπƍ jatuh pada tanggal 9 dzulhijjah ini merupakan hari Чαπƍ begitu masyhur dengan banyaknya pahala, dan pengampunan dosa-dosa.

Hari Чαπƍ terbaik untuk memanjatkan doa, Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda:

أفضل الدعاء دعاء يوم عرفة

“Sebaik-baik doa adalah doa pada hari Arofah”. (HR. at-Tirmidzi).

Pada hadits Чαπƍ lain:

و أفضل ما قلت أنا و النبيون قبلي: لا إله إلا الله وحده لا شريك له

“Dan sebaik-baik Чαπƍ aku ucapkan, dan para Nabi sebelumku adalah: Laa Ilaaha Illallahu wahdahu laa syarika lahu”. (HR. at-Tirmidzi).

Hari Чαπƍ dimana para jamaah haji melakukan wukuf ‎​δ¡ Arofah, Чαπƍ merupakan rukun paling agung dan menentukan dalam pelaksanaan ibadah haji, Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda:

الحج عرفة

“Inti ibadah Haji adalah wukuf ‎​δ¡ Arofah”. (HR. Ahmad, dan Ahlus sunan).

Maka dari itu hari Arofah disebut dengan hari Haji Akbar.

Hari Arofah merupakan hari Чαπƍ disaksikan, Чαπƍ Allah Ta’ala bersumpah dengannya dalam al-Quran:

Allah Ta’ala berfirman:

و شاهد و مشهود

“Dan Чαπƍ menyaksikan dan Чαπƍ disaksikan”. (QS. al-Buruj:3).

Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda menjelaskan ayat tersebut:

اليوم الموعود يوم القيامة، و اليوم المشهود يوم عرفة

“Hari Чαπƍ dijanjikan itu adalah hari kiamat, dan hari Чαπƍ disaksikan itu adalah hari Arofah”. (HR. at-Tirmidzi).

Ikhwan fillah ketahuilah bahwa berpuasa pada hari itu dapat menghapuskan dosa-dosa selama dua tahun, satu tahun Чαπƍ lalu, dan satu tahun Чαπƍ akan datang. Nabi صلى الله عليه و سلم menjelaskan ketika ditanya tentang puasa arofah:

يكفر السنة الماضية والباقية

“Dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan yang akan datang”. (HR. Muslim dan at-Tirmidzi).

Hari Arofah merupakan hari Чαπƍ м̤̈αηα Allah Ta’ala mengambil perjanjian dari anak keturunan Adam untuk mentauhidkannya, Nabi صلى الله عليه و سلم menjelaskan:

إن الله أخذ الميثاق من ظهر آدم بنعمان يوم عرفة

“Sesungguhnya Allah Ta’ala mengambil perjanjian dari punggung Adam disatu tempat Чαπƍ bernama Nu’man pada hari Arofah”. (HR. Ahmad dan an-Nasai).

Dan pada hari itu Allah Ta’ala membanggakan orang-orang Чαπƍ berada ‎​δ¡ Arofah dihadapan para malaikatnya, Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda:

إن الله يباهي بأهل عرفات أهل السماء، فيقول لهم: انظروا إلى عبادي هؤلاء جاؤوني شعثا غبرا

“Sesungguhnya Allah Ta’ala membanggakan orang-orang Чαπƍ berada ‎​δ¡ Arofah dihadapan penduduk langit (malaikat), Allah mengatakan kepada mereka: ‘Lihatlah hamba-hambaku, mereka datang kepadaku dalam keadaan kusut dan berdebu'”. (HR. Ibnu Hibban dan al-Hakim).

Pada hari itu pula Allah Ta’ala banyak membebaskan hambanya dari api neraka, Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda:

ما من يوم أكثر من أن يعتق الله فيه عبدا أو أمة من النار من يوم عرفة،…

“Tidak ada hari Чαπƍ padanya Allah Ta’ala banyak membebaskan hambanya Чαπƍ laki-laki dan perempuan, dari api neraka melebihi hari Arofah,…”. (HR. Muslim).

Demikian agung hari Arofah, maka dari itu janganlah kita sia-siakan begitu saja, karena boleh jadi kita tidak menjumpainya lagi.

Ya Allah mudahkanlah kami untuk memperbanyak amal shalih, dan melakukan keta’atan kepadamu.

24 Oktober 2012 Posted by | Faedah, Nasehat, Tazkiyatun Nufus | Tinggalkan komentar

Saling Memaafkan


Dalam menjalin hubungan, baik suami istri, saudara dan pertemanan, tidaklah selalu berjalan mulus, tidak jarang dalam hubungan tersebut terjadi perselisihan, kekeliruan dan kekhilafan. Bagaimana jika hal itu terjadi?

Islam agama Чαπƍ sempurna, mengajarkan umatnya bahwa jika terjadi perselisihan atau kekeliruan maka tidak boleh mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. sebagaimana sabda Nabi shallahu ‘alaihi wasallam:

عَن أَبِي أَيوب رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللهَ صَلَى اللهُ عَلَيهِ وَسَلمَ قَالَ : لاَيَحِلُّ لِمُسلِمٍ أَن يَهْجُرَ أَخَاهُ فَوْقَ ثَلَاثِ لََيَالٍ، يَلْتَقِيَانِ، فَيَعْرِضُ هَذَا وَ يَعْرِضُ هَذَا، وَخَيْرُهُمَا الَّذِي يَبْدَأُ بِالسَّلَامِ”. متفق عليه.

“Dari Abu Ayyub radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak halal bagi seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari. Jika mereka bertemu maka keduanya saling membuang muka. yang paling baik diantara keduanya adalah yang pertama memulai salam. (Muttafaqun ‘alaihi).
‫‬‫‬

Islam memberi batasan tidak boleh lebih dari 3 hari. Batasan ini diberikan agar saling introspeksi, menahan amarah dan meredam rasa dendam. Namun sebaik-sebaiknya tindakakan Чαπƍ dilakukan oleh seorang muslim adalah bersegera menjabat tangan saudaranya, memaafkannya dan berusaha menyelesaikannya.

Hal ini dikarenakan dia menjalin hubungan atas dasar cinta karena Allah Ta’ala, sehingga ia berusaha untuk merealisasikan firman Allah Ta’ala:

وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

“Serta orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 134).

Berdasarkan hadits diatas Islam juga memberikan jalan keluar jika terjadi perselisihan, bahwa sebaik-baiknya orang jika terjadi perselisihan adalah Чαπƍ pertama memulai dengan salam. Dengan salam dapat menumbuhkan rasa cinta, sebagaimana sabda Nabi shallahu ‘alaihi wasallam:

لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

“Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak akan beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah aku beritahukan kepada kalian suatu hal yang jika dikerjakan pasti kalian akan saling mencintai?
Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim).

Dengan tumbuhnya rasa cinta maka hilang kebencian, dan rasa denda. Maka hendaknya kita berusaha untuk memaafkan segala kekhilafan dan kekeliruan Чαπƍ terjadi, sebagaimana kita ingin oranglain memaafkan segala kekhilafan kita.
نسأل اللّه التوفِيق و السداد

7 Juni 2012 Posted by | Nasehat, Tazkiyatun Nufus | Tinggalkan komentar

Patutkah Kita Menyombongkan Diri


Wahai saudaraku sesungguhnya kematian itu pasti terjadi, dan tidak ada keraguan padanya. Allah Ta’ala berfirman:

وَجَاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذَلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَحِيدُ‬‬

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya”.(QS. Qaf:19).

Siapakah Чαπƍ mampu menolak sakarotul maut? Apabila telah datang ajal maka tidak ada Чαπƍ mampu mengundur-undurkannya, walaupun hanya sesaat, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

‫‫وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ‬‬

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; Maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya”.(QS. al-A’raf:34).

Siapakah Чαπƍ mampu menangguhkan datangnya ajal kematian bila sudah siap menjemput?

Lalu kenapa kau sombong wahai manusia, padahal kau akan dimakan cacing-cacing tanah?

Lalu mengapa engkau congkak, padahal ‎δ¡ dalam tanah kau akan berbaring?

Kenapa kau menununda-nunda taubat dan amal shalih padahal kematian akan datang tiba-tiba?

Marilah kita merenungi firman-firman Allah berikut:

‫‫كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ‬‬

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(QS. Ali Imron:185).

‫‫كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ. وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ‬‬

“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Dzat Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan”. (QS. ar-Rahman:26-27).

‫‫وَلَا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آَخَرَ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ‬‬

“Janganlah kamu sembah di samping (menyembah) Allah, Tuhan apapun yang lain. tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan”. (QS. al-Qashash:88).

Semoga kita bisa mengambil ‘ibroh dari setiap Чαπƍ kita pelajari, dan kita dapatkan.
– – – – – – 〜✽〜 – – – – – –

5 Juni 2012 Posted by | Tazkiyatun Nufus | Tinggalkan komentar

Racun Hati


Hati sangatlah berpengaruh dalam gerak-gerik seseorang. Karena seseorang akan selalu melakukan sesuatu sesuai kata hatinya.
Hati ϑί dalam tubuh manusia laksana raja pada anggota tubuh, dan anggota tubuh adalah prajuritnya, apabila rajanya baik, maka baik pula prajuritnya, dan apabila raja buruk, maka buruk pulalah prajuritnya.

Rasulullah صلى اللّهُ عليه وسلم bersabda:

ألا إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب

     “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad terdapat segumpal daging, apabila dia baik maka baiklah seluruh jasadnya. Dan apabila dia rusak, maka rusaklah seluruh  jasadnya, ketahuilah segumpal daging itu adalah hati”. (HR. al-Bukhari).

Setampan atau secantik apapun rupa seseorang, tidaklah indah tanpa hati Чαπƍ bersih, karena hati yang bersih melahirkan perbuatan yang baik, begitu pula sebaliknya. Dan Allah tidaklah melihat dari fisik seseorang, melainkan Allah akan melihat pada hati dan amalannya.

Dari Abu Hurairah  رضي الله عنه  berkata, Rasulullah صلى اللّهُ عليه وسلم  bersabda,

  إن الله لا ينظر إلى أجسامكم ولا إلى صوركم ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم

    “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad-jasad kalian, tidak pula rupa-rupa kalian, akan tetapi Dia melihat kepada hati-hati kalian dan perbuatan-perbuatan kalian”. (HR. Muslim).

Oleh karena itu membersihkan hati sangatlah penting, karena pada hari kiamat tidaklah berguna harta dan anak kecuali Чαπƍ datang kepada Allah dengan membawa hati yang selamat. Sebagaimana firman-Nya:

يوم لا ينفع مال ولا بنون إلا من أتى الله بقلب سليم

    “Pada hari (kiamat) ketika tidak lagi bermanfaat harta maupun keturunan, kecuali bagi orang yang menghadap Allah dengan hati yang selamat.” (QS. asy-Syu’araa’:88-89).

• Karakter Hati Yang Selamat

Syaikh as-Sa’di rahimahullah menyebutkan beberapa karakter atau ciri-ciri hati yang selamat; yaitu hati tersebut diisi dengan: keikhlasan, ilmu, keyakinan, kecintaan kepada kebaikan dan menganggap kebaikan itu sesuatu yang indah di dalam hatinya, keinginan dan kecintaannya senantiasa mengikuti apa yang Allah cintai, begitu pula hawa nafsunya tunduk mengikuti ajaran yang Allah berikan. (Taisir al-Kariim ar-Rahmaan, hal:593).

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan bahwa hati tidak akan benar-benar bisa selamat kecuali jika terbebas dari lima hal:

1. Syirik yang memupuskan tauhid.

2. Bid’ah yang menyimpangkan dari as-Sunnah.

3. Menuruti keinginan nafsu yang membuat berpaling dari perintah (syari’at).

4. Kelalaian yang membuat dzikir terbengkalai.

5. Hawa nafsu yang mengikis kemurnian ibadah dan keikhlasan (Ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal:138).

Agar hati kita bersih dan selamat hendaklah kita mengetahui racun-racun yang bisa merusak hati. Ada Empat racun dalam hati Чαπƍ memiliki pengaruh Чαπƍ sangat kuat dan Чαπƍ paling banyak menyebar, diantaranya adalah:

1. Kelebihan dalam berbicara (Fudhulul kalam).

2. Kelebihan dalam memandang (Fudhulun nadzar).

3. Berlebih-lebihan dalam hal makanan (Fudhuluth tho’aam).

4. Kelebihan dalam bergaul (Fudhulul mukhaalathoh).

Hendaklah kita berusaha menjaga hati kita dengan tidak memasukkan racun-racun tersebut, dan berusaha semaksimal mungkin untuk menyingkirkannya. Dan apabila racun-racun tersebut masuk karena kelalaian atau kesalahan maka hendaklah kita bersegera untuk menghapusnya dengan bertaubat kepada Allah dan memperbanyak beristighfar.              Semoga kita semua dapat terhindar dari racun-racun Чαπƍ menjangkit hati, sehingga kita kelak menghadap Allah dengan membawa hati Чαπƍ selamat.

آمِيْن

 Disarikan dari kajian rutin Tazkiyatun Nufus oleh Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc.

– – – – – – 〜✽〜 – – – – – –

Sent from my BlackBerry® smartphone from Sinyal Bagus XL, Nyambung Teruuusss…!

9 April 2012 Posted by | Tazkiyatun Nufus | Tinggalkan komentar

Apakah Tazkiyatun Nafs adalah perbuatan Allah Ta’ala atau perbuatan Hamba?


Apakah Tazkiyatun Nafs adalah perbuatan Allah Ta’ala atau perbuatan Hamba?

Sesungguhnya para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan firman Allah Ta’ala:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

“Sungguh beruntung orang Чαπƍ mensucikan jiwanya”. (QS. asy-Syams:9).

Apakah Чαπƍ mensucikan dalam ayat ini adalah Allah Чαπƍ mensucikan hambanya, atau hamba itu Чαπƍ mensucikan dirinya?

Para ulama dalam penafsiran ayat ini ada dua pendapat. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah menguatkan pendapat bahwa Tazkiyah dalam ayat ini adalah dari hambanya, dan bahwasanya dialah Чαπƍ mensucikan dirinya dengan melakukan ketaatan, dan ini sesuai dengan firman Allah ‘Azza wa Jalla:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى

“Sungguh beruntung orang Чαπƍ mensucikan dirinya”. (QS. al-A’laa:14).

Maka Tazkiyah ‎​δ¡ sini adalah dari hamba dengan melakukan ketaatan kepada Allah ‘Azza wa Jalla, akan tetapi tidak boleh ‎​δ¡lupakan bahwa seorang hamba Чαπƍ mensucikan dirinya itu atas berkat taufik dan karunia Allah ‘Azza wa Jalla, oleh karena itu Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

وَلَوْ لاَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَداً وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّى مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ

“Kalau bukan karena karunia Allah dan rahmatnya kepadamu, niscaya tidak seorangpun diantara kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa Чαπƍ Dia kehendaki. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui”. (QS. an-Nur:21).

Tidak ‎​δ¡ragukan bahwa seorang hamba memiliki pengaruh dalam mensucikan dirinya, dan itu tidak secara keseluruhan dilakukan oleh dirinya, akan tetapi dengan karunia dari Allah ‘Azza wa Jalla. Kalau bukan karena karunia dan rahmat dari Allah niscaya tidak seorangpun dari hamba-hambanya Чαπƍ bersih.
Dan ini mengingatkan kita akan masalah Чαπƍ besar yaitu, bahwa manusia membutuhkan Rabbnya ‘Azza wa Jalla setiap saat untuk mensucikan jiwanya, oleh karena itu ada sebuah hadits:

اَللَّهَّمَ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا

“Ya Allah anugerahkanlah ketakwaan pada jiwaku dan sucikanlah ia, karena Engkaulah sebaik-baik Dzat yang mensucikannya”. (HR. Muslim: 2722).

(Tazkiyatun Nafs, Mafhuumuhaa, wa Marootibuhaa, wa Asbaabuhaa: Syaikh Dr. Ibrahim bin Amir ar-Ruhaily, hal: 22-23).
– – – – – – 〜✽〜 – – – – – –

28 Maret 2012 Posted by | Tazkiyatun Nufus | Tinggalkan komentar